Skip to main content

Training Ahli K3 – HSE Consultant – Konsultan ISO – NEBOSH Indonesia

Ergonomi Adalah_ Manfaat dan Contoh Penerapannya di Tempat Kerja

Seorang pekerja pabrik mulai merasa telinganya berdengung setiap pulang kerja. Awalnya dianggap lelah biasa. Bertahun-tahun kemudian, pendengarannya menurun dan tidak bisa pulih. Tidak ada kecelakaan yang terjadi di satu hari tertentu, tetapi dampaknya nyata.

Itulah wajah penyakit akibat kerja: muncul perlahan, sering tidak disadari, tetapi bisa dicegah. Lalu, apa itu penyakit akibat kerja, apa saja jenis dan penyebabnya, serta bagaimana cara mencegahnya?

Baca Juga: Jenis-Jenis Bahaya di Tempat Kerja dan Cara Mengendalikannya

Apa Itu Penyakit Akibat Kerja (PAK)?

Penyakit akibat kerja (PAK) adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan dan atau lingkungan kerja. Penyebabnya dapat berupa faktor fisik, kimia, biologis, ergonomi, atau psikososial. Berbeda dengan kecelakaan kerja yang terjadi tiba-tiba, PAK umumnya berkembang perlahan akibat paparan yang berlangsung lama.

Catatan: artikel ini bersifat edukasi dan bukan pengganti pemeriksaan atau saran dokter. Jika Kamu mengalami keluhan kesehatan, periksakan ke dokter atau dokter okupasi.

Dasar Hukum:

  • Perpres No. 7 Tahun 2019: mengatur daftar penyakit akibat kerja yang diakui di Indonesia.
  • Pasal 8 UU No. 1 Tahun 1970: mewajibkan pengurus memeriksakan kesehatan tenaga kerja sebelum diterima dan secara berkala.
  • Permenaker No. 5 Tahun 2018: mengatur K3 Lingkungan Kerja, termasuk lima faktor bahaya kesehatan.

Perbedaan PAK dan Kecelakaan Kerja

  • Penyakit Akibat Kerja: berkembang perlahan, sering setelah paparan berulang atau lama. Penyebabnya paparan faktor fisik, kimia, biologis, ergonomi, atau psikososial. Dampaknya gangguan kesehatan yang sering bersifat kronis. Contoh: gangguan pendengaran akibat bising, dermatitis akibat bahan kimia.
  • Kecelakaan Kerja: terjadi tiba-tiba pada waktu tertentu. Penyebabnya tindakan atau kondisi tidak aman. Dampaknya cedera, kerusakan, atau korban jiwa. Contoh: tersengat listrik, terjatuh, terjepit mesin.

Karena sifatnya yang perlahan, PAK sering terlambat disadari. Pemahaman tentang jenis-jenis bahaya di tempat kerja membantu mengenali sumbernya sejak awal.

Jenis-Jenis Penyakit Akibat Kerja Berdasarkan Penyebabnya

  • Fisik: penyebabnya kebisingan, getaran, suhu ekstrem, radiasi. Contoh penyakit: gangguan pendengaran akibat bising, gangguan akibat getaran, heat stress. Pencegahan utama: peredam, batas durasi, penyumbat telinga, pengukuran.
  • Kimia: penyebabnya debu, gas, uap, cairan, dan bahan beracun. Contoh penyakit: dermatitis kontak, asma kerja, keracunan, penyakit paru akibat debu. Pencegahan utama: substitusi, ventilasi lokal, APD, SDS.
  • Biologis: penyebabnya bakteri, virus, jamur, parasit. Contoh penyakit: infeksi, hepatitis, TBC pada tenaga kesehatan, alergi. Pencegahan utama: sanitasi, vaksinasi, APD, pengelolaan limbah.
  • Ergonomi: penyebabnya postur janggal, beban berat, gerakan berulang. Contoh penyakit: nyeri punggung bawah, sindrom terowongan karpal, radang tendon. Pencegahan utama: desain kerja, alat bantu, rotasi tugas. Pelajari selengkapnya di Ergonomi Adalah.
  • Psikososial: penyebabnya beban kerja berlebih, tekanan, jam kerja panjang, kekerasan. Contoh penyakit: stres kerja, gangguan tidur, kelelahan berkepanjangan. Pencegahan utama: beban kerja wajar, dukungan, peran jelas.

Contoh Penyakit Akibat Kerja Berdasarkan Sektor

  • Pertambangan dan Konstruksi: paparan utama debu, kebisingan, getaran, beban fisik. PAK umum: penyakit paru akibat debu, gangguan pendengaran, nyeri punggung.
  • Pabrik dan Manufaktur: paparan utama kebisingan, bahan kimia, gerakan berulang. PAK umum: gangguan pendengaran, dermatitis, gangguan otot dan sendi.
  • Pengelasan: paparan utama asap dan gas las, radiasi, panas. PAK umum: gangguan pernapasan, gangguan mata, heat stress.
  • Pertanian: paparan utama pestisida, panas, postur kerja. PAK umum: keracunan pestisida, dermatitis, nyeri punggung.
  • Tenaga Kesehatan: paparan utama patogen, bahan kimia, jam kerja panjang. PAK umum: infeksi, alergi, gangguan otot, stres kerja.
  • Perkantoran: paparan utama duduk lama, penggunaan komputer, tekanan kerja. PAK umum: nyeri leher dan punggung, mata lelah, stres kerja.

Faktor yang Memengaruhi Terjadinya PAK

  1. Jenis dan tingkat paparan: semakin tinggi kadar atau intensitas bahaya, semakin besar risikonya.
  2. Lama dan frekuensi paparan: paparan yang berulang selama bertahun-tahun meningkatkan peluang penyakit.
  3. Pengendalian yang kurang: tidak ada ventilasi, peredam, atau pelindung yang memadai.
  4. APD tidak dipakai atau tidak sesuai: perlindungan tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
  5. Kerentanan individu: kondisi kesehatan, usia, dan faktor lain dapat memengaruhi dampak paparan.
  6. Tidak ada pemantauan kesehatan: gangguan awal tidak terdeteksi sehingga memburuk.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

PAK sering diawali keluhan ringan. Waspadai jika keluhan berikut muncul atau memburuk terkait pekerjaan:

  • Telinga berdengung atau pendengaran menurun setelah bekerja di area bising.
  • Batuk berkepanjangan, sesak napas, atau mengi setelah terpapar debu atau uap.
  • Ruam, gatal, atau kulit pecah-pecah pada tangan setelah memegang bahan kimia.
  • Nyeri atau kesemutan pada punggung, leher, bahu, atau tangan yang berulang.
  • Kelelahan berkepanjangan, sulit tidur, atau stres yang terus meningkat akibat pekerjaan.

Salah satu petunjuk adalah keluhan yang memburuk saat bekerja dan membaik saat libur. Jika Kamu mengalaminya, sampaikan kepada petugas K3 atau atasan dan periksakan diri ke dokter.

Cara Mencegah Penyakit Akibat Kerja

  1. Identifikasi bahaya kesehatan: kenali sumber bising, bahan kimia, agen biologis, postur kerja, dan tekanan kerja.
  2. Ukur dan pantau lingkungan kerja: lakukan pengukuran kebisingan, debu, bahan kimia, dan pencahayaan, lalu bandingkan dengan nilai ambang batas yang berlaku.
  3. Kendalikan dengan hierarki: utamakan eliminasi, substitusi, dan rekayasa teknik sebelum administratif dan APD. Pelajari di Hierarki Pengendalian Risiko K3.
  4. Sediakan dan awasi APD: pilih APD yang sesuai bahaya dan pastikan dipakai dengan benar. Lihat 15 Jenis APD dan Fungsinya.
  5. Lakukan pemeriksaan kesehatan pekerja: sebelum bekerja, berkala, dan khusus bila perlu.
  6. Edukasi pekerja: sampaikan bahaya kesehatan, cara pencegahan, dan kebersihan diri melalui safety induction dan toolbox meeting.
  7. Atur kerja dan istirahat: batasi durasi paparan, rotasi tugas, dan beri jeda yang cukup.

Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja

Pasal 8 UU No. 1 Tahun 1970 mewajibkan pengurus memeriksakan kesehatan tenaga kerja. Jenis pemeriksaan yang umum:

  • Pemeriksaan awal: sebelum bekerja, sebagai data dasar kondisi kesehatan.
  • Pemeriksaan berkala: sesuai tingkat risiko, untuk mendeteksi perubahan kesehatan akibat paparan.
  • Pemeriksaan khusus: setelah sakit, cedera, atau paparan tertentu.

Hak Pekerja dan Tanggung Jawab Perusahaan

  • Perusahaan: menyediakan lingkungan kerja yang aman dan sehat, melakukan pengendalian bahaya, memeriksakan kesehatan pekerja, dan menyediakan APD.
  • Pekerja: mematuhi prosedur, memakai APD, menjaga kesehatan, dan melaporkan keluhan serta kondisi berbahaya. Laporan dapat berupa near miss maupun keluhan kesehatan.
  • Jaminan sosial: pekerja yang mengalami PAK dapat berhak atas manfaat program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) BPJS Ketenagakerjaan sesuai ketentuan yang berlaku.

Kesalahan Umum dalam Pencegahan PAK

  • Menganggap keluhan hanya kelelahan biasa: gejala awal diabaikan sampai parah.
  • Hanya mengandalkan APD: padahal pengendalian di sumber lebih efektif.
  • Tidak ada pengukuran lingkungan: paparan tidak diketahui sehingga pengendalian tidak terarah.
  • Pemeriksaan kesehatan tidak berkala: perubahan kondisi pekerja tidak terpantau.
  • Tidak melaporkan keluhan: pekerja khawatir dianggap lemah atau mengeluh.
  • Tidak melibatkan pekerja: informasi tentang paparan nyata di lapangan tidak sampai ke pengambil keputusan.

Penyakit Akibat Kerja dalam Sistem Manajemen K3

Pencegahan PAK menjadi bagian penting dari sistem manajemen K3 perusahaan. Agar penerapannya konsisten, perusahaan dapat memakai layanan Konsultan SMK3 atau Konsultan ISO 45001, serta menyiapkan personel yang kompeten melalui:

  • Training Ahli K3 Umum Sertifikasi KEMNAKER: untuk penunjukan resmi personel K3 di perusahaan.
  • Training Ahli K3 Umum Sertifikasi BNSP: untuk pengakuan kompetensi teknis individu secara nasional.

Baru mengenal K3? Mulai dari K3 Adalah: Pengertian, Tujuan, Manfaat, dan Contohnya di Tempat Kerja.

Bagikan juga di
Facebook
WhatsApp
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Post Terbaru
Artikel Terbaru
Lihat Keseruan Training di Phitagoras
Rate this post
Need Help? Click Here Penyakit Akibat Kerja: Jenis, Penyebab, dan Cara Pencegahannya

We are here to assist you. Please chat with one of our Account Executives

Account Executive

Laras - Head Office

Online

Account Executive

Nina - Head Office

Online

Laras - Head OfficeChat with us for any of your needs

Hello, is there anything I can help you with? 00.00

Nina - Head OfficeCommunicate Your Needs Here

Hello, is there anything I can help you with? 00.00