
Kecelakaan kerja sering kali tidak terjadi secara tiba-tiba. Sebelum insiden terjadi, biasanya sudah terdapat kondisi berbahaya, perilaku tidak aman, peralatan bermasalah, atau proses kerja yang belum dikendalikan dengan baik.
Masalahnya, bahaya tersebut sering dianggap biasa karena pekerja menghadapinya setiap hari.
Kabel yang melintang di jalur kerja, pekerja yang berdiri di atas kursi, suara mesin yang terlalu bising, tumpahan cairan, atau aktivitas pengangkatan manual mungkin terlihat sederhana. Namun, tanpa identifikasi dan pengendalian yang tepat, kondisi tersebut dapat menyebabkan cedera, penyakit akibat kerja, kerusakan alat, atau gangguan operasional.
Karena itulah perusahaan membutuhkan metode yang sistematis untuk menemukan bahaya, menilai tingkat risikonya, dan menentukan tindakan pengendalian.
Salah satu metode yang banyak digunakan adalah HIRADC.
Baca Juga: Industri dengan Peluang Kerja K3 Terbesar di Indonesia Tahun 2026
HIRADC adalah singkatan dari Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control, yaitu proses untuk mengidentifikasi bahaya, menilai risiko, serta menentukan pengendalian yang diperlukan agar pekerjaan dapat dilakukan dengan lebih aman.
Metode ini membantu perusahaan beralih dari pendekatan reaktif bertindak setelah kecelakaan terjadi menjadi pendekatan preventif dengan mengendalikan risiko sejak awal.
Apa Itu HIRADC?
HIRADC adalah metode manajemen risiko K3 yang terdiri dari tiga proses utama:
|
Tahapan |
Arti |
Tujuan |
|
Hazard Identification |
Identifikasi bahaya |
Menemukan sumber yang dapat menyebabkan cedera atau gangguan kesehatan |
|
Risk Assessment |
Penilaian risiko |
Menentukan tingkat risiko berdasarkan kemungkinan dan dampaknya |
|
Determining Control |
Penentuan pengendalian |
Menentukan tindakan untuk menghilangkan atau mengurangi risiko |
Kementerian Ketenagakerjaan menjelaskan bahwa identifikasi bahaya, penilaian risiko, dan pengendalian risiko digunakan sebagai acuan dalam menentukan rencana penerapan K3 di perusahaan. Proses tersebut perlu mencakup aktivitas rutin, nonrutin, pihak yang memasuki tempat kerja, faktor manusia, ergonomi, kondisi psikososial, dan dampak lingkungan.
HIRADC bukan sekadar formulir yang harus diisi sebelum audit.
Dokumen HIRADC seharusnya menggambarkan risiko nyata yang ada di lapangan dan menjadi dasar dalam menentukan prosedur, pelatihan, inspeksi, APD, serta kebutuhan pengendalian teknis.
Mengapa HIRADC Penting?
Bahaya yang tidak teridentifikasi tidak dapat dikendalikan.
International Labour Organization menekankan bahwa salah satu bagian terpenting dalam penilaian risiko adalah mengidentifikasi potensi bahaya secara akurat. Perusahaan perlu mempertimbangkan aktivitas, proses, bahan, catatan kecelakaan, near miss, pekerjaan pemeliharaan, serta kegiatan nonrutin.
HIRADC membantu perusahaan menjawab lima pertanyaan dasar:
- Pekerjaan apa yang dilakukan?
- Bahaya apa yang mungkin muncul?
- Siapa yang dapat terdampak?
- Seberapa besar tingkat risikonya?
- Pengendalian apa yang harus diterapkan?
Dengan jawaban tersebut, perusahaan dapat memprioritaskan sumber daya pada risiko yang paling membutuhkan perhatian.
ISO 45001 juga menempatkan identifikasi bahaya dan penilaian risiko sebagai elemen penting dalam sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja. Standar tersebut menggunakan pendekatan Plan-Do-Check-Act untuk membantu organisasi mengelola risiko secara sistematis dan melakukan peningkatan berkelanjutan.
Apa Tujuan HIRADC?
Tujuan utama HIRADC adalah mencegah cedera dan penyakit akibat kerja dengan mengendalikan risiko sebelum menimbulkan dampak.
Secara lebih rinci, HIRADC bertujuan untuk:
- Mengidentifikasi seluruh potensi bahaya;
- Menentukan pekerja atau pihak yang dapat terdampak;
- Menilai tingkat risiko setiap bahaya;
- Menentukan risiko yang harus diprioritaskan;
- Memilih pengendalian yang paling efektif;
- Menjadi dasar penyusunan prosedur kerja;
- Mendukung kebutuhan pelatihan;
- Membantu proses inspeksi dan audit;
- Menjadi acuan evaluasi setelah terjadi perubahan;
- Mendorong keterlibatan pekerja dalam penerapan K3.
ILO menjelaskan bahwa penilaian risiko yang dilakukan dengan baik dapat membantu menghilangkan atau meminimalkan bahaya, memperbaiki pengaturan kerja, dan berpotensi meningkatkan produktivitas.
Perbedaan Bahaya dan Risiko dalam HIRADC
Bahaya dan risiko sering dianggap sama, padahal keduanya memiliki arti berbeda.
|
Istilah |
Pengertian |
Contoh |
|
Bahaya |
Sumber atau kondisi yang dapat menyebabkan kerugian |
Kabel listrik terkelupas |
|
Risiko |
Kombinasi kemungkinan kejadian dan tingkat dampak |
Pekerja tersengat listrik dan mengalami cedera serius |
|
Pengendalian |
Tindakan untuk menghilangkan atau mengurangi risiko |
Mengganti kabel, memasang pelindung, dan melakukan inspeksi |
Contoh lainnya:
- Bahaya: lantai terkena tumpahan minyak;
- Risiko: pekerja terpeleset dan mengalami cedera;
- Pengendalian: membersihkan tumpahan, memasang tanda peringatan, dan mencari sumber kebocoran.
Memahami perbedaan ini penting agar tim tidak hanya mencatat kondisi, tetapi juga menganalisis potensi dampaknya.
Siapa yang Membuat HIRADC?
HIRADC sebaiknya tidak dibuat hanya oleh satu orang di dalam kantor.
Prosesnya perlu melibatkan pihak yang memahami pekerjaan, seperti:
- HSE Officer;
- Safety Officer;
- Supervisor;
- Operator;
- Teknisi;
- Tim maintenance;
- Perwakilan pekerja;
- Tim engineering;
- Kontraktor;
- Tenaga kesehatan kerja jika diperlukan.
ILO merekomendasikan agar identifikasi bahaya dan penilaian risiko dilakukan dengan konsultasi serta keterlibatan pekerja dan perwakilannya. Penilaian juga perlu dilakukan sebelum perubahan metode kerja, material, proses, atau mesin diperkenalkan.
Pekerja yang menjalankan aktivitas setiap hari biasanya mengetahui masalah yang tidak terlihat oleh manajemen atau petugas K3.
Tahapan Membuat HIRADC
Berikut tahapan HIRADC yang dapat digunakan sebagai panduan praktis.
1. Menentukan Ruang Lingkup Pekerjaan
Langkah pertama adalah menentukan aktivitas yang akan dinilai.
Jangan menulis ruang lingkup terlalu luas seperti “pekerjaan gudang”. Pecah menjadi aktivitas yang lebih spesifik:
- Menerima barang;
- Membongkar muatan;
- Mengoperasikan forklift;
- Menyusun barang di rak;
- Mengangkat barang secara manual;
- Mengisi daya baterai forklift;
- Membersihkan area gudang.
Semakin jelas aktivitasnya, semakin mudah bahaya diidentifikasi.
2. Menguraikan Tahapan Pekerjaan
Setiap aktivitas perlu dipecah menjadi langkah kerja.
Contoh pekerjaan mengganti lampu:
- Membawa peralatan ke lokasi;
- Memasang tangga;
- Mematikan sumber listrik;
- Menaiki tangga;
- Melepaskan lampu lama;
- Memasang lampu baru;
- Mengaktifkan kembali listrik;
- Membersihkan area.
Pembagian tersebut membantu tim menemukan bahaya pada setiap tahap.
3. Mengidentifikasi Bahaya
Identifikasi semua sumber bahaya yang mungkin muncul.
Jenis bahaya dalam HIRADC
|
Jenis bahaya |
Contoh |
|
Fisik |
Kebisingan, panas, getaran, radiasi |
|
Mekanis |
Mesin bergerak, benda tajam, titik jepit |
|
Listrik |
Kabel terbuka, panel rusak, hubungan pendek |
|
Kimia |
Gas, uap, debu, cairan korosif |
|
Biologis |
Bakteri, virus, jamur, limbah medis |
|
Ergonomi |
Postur buruk, gerakan berulang, angkat manual |
|
Psikososial |
Beban kerja, kekerasan, komunikasi buruk |
|
Kebakaran |
Bahan mudah terbakar, sumber panas |
|
Lingkungan |
Limbah, tumpahan, emisi, pencemaran |
Kementerian Ketenagakerjaan menyebutkan bahwa identifikasi bahaya perlu mempertimbangkan aktivitas rutin dan nonrutin, kontraktor, pengunjung, faktor manusia, biomekanik, kondisi psikososial, serta dampak lingkungan.
4. Menentukan Potensi Dampak
Setelah bahaya ditemukan, tentukan konsekuensi yang mungkin terjadi.
Contoh:
|
Bahaya |
Potensi dampak |
|
Lantai licin |
Terpeleset, memar, patah tulang |
|
Kebisingan tinggi |
Gangguan pendengaran |
|
Debu silika |
Gangguan pernapasan |
|
Mesin tanpa pelindung |
Tangan terjepit atau terpotong |
|
Kerja di ketinggian |
Jatuh dan cedera fatal |
|
Bahan mudah terbakar |
Kebakaran atau ledakan |
Hindari menulis dampak terlalu umum seperti “kecelakaan”.
Tuliskan jenis cedera atau gangguan yang mungkin terjadi agar tingkat keparahannya dapat dinilai lebih tepat.
5. Menilai Kemungkinan Terjadinya Risiko
Kemungkinan atau likelihood menunjukkan seberapa besar peluang kejadian terjadi.
Contoh skala:
|
Nilai |
Kategori |
Penjelasan |
|
1 |
Sangat jarang |
Hampir tidak pernah terjadi |
|
2 |
Jarang |
Dapat terjadi dalam kondisi tertentu |
|
3 |
Mungkin |
Pernah terjadi atau dapat terjadi |
|
4 |
Sering |
Terjadi beberapa kali |
|
5 |
Sangat sering |
Berpotensi terjadi berulang |
Penilaian sebaiknya mempertimbangkan:
- Frekuensi aktivitas;
- Durasi paparan;
- Jumlah pekerja;
- Riwayat insiden;
- Kondisi peralatan;
- Kompetensi pekerja;
- Pengendalian yang tersedia.
6. Menilai Tingkat Keparahan
Severity menunjukkan seberapa berat dampaknya apabila kejadian benar-benar terjadi.
|
Nilai |
Kategori |
Contoh dampak |
|
1 |
Tidak signifikan |
Tidak ada cedera atau pertolongan sederhana |
|
2 |
Ringan |
Cedera ringan dan dapat kembali bekerja |
|
3 |
Sedang |
Membutuhkan perawatan medis |
|
4 |
Berat |
Cedera permanen atau kehilangan waktu kerja |
|
5 |
Sangat berat |
Kematian atau beberapa korban |
Kategori perlu disesuaikan dengan standar perusahaan.
7. Menghitung Tingkat Risiko
Rumus sederhana yang sering digunakan adalah:
Risiko = Kemungkinan × Keparahan
Contoh:
- Kemungkinan: 4;
- Keparahan: 4;
- Nilai risiko: 16.
Contoh klasifikasi:
|
Nilai risiko |
Tingkat |
Tindakan |
|
1–4 |
Rendah |
Pertahankan dan pantau |
|
5–9 |
Sedang |
Perlu perbaikan terencana |
|
10–16 |
Tinggi |
Segera lakukan pengendalian |
|
17–25 |
Ekstrem |
Hentikan pekerjaan sampai aman |
Matriks tersebut hanya contoh. Perusahaan dapat menggunakan kategori berbeda sesuai prosedur internal dan karakteristik risikonya.
Kementerian Ketenagakerjaan menyebut pendekatan matriks risiko sebagai metode yang relatif sederhana, mudah diterapkan, dan mampu memberikan representasi visual tingkat risiko.
8. Menentukan Pengendalian Risiko
Pengendalian tidak sebaiknya langsung mengandalkan APD.
Gunakan hierarki pengendalian berikut:
|
Tingkat |
Pengendalian |
Contoh |
|
1 |
Eliminasi |
Menghilangkan aktivitas atau sumber bahaya |
|
2 |
Substitusi |
Mengganti bahan atau metode yang lebih aman |
|
3 |
Rekayasa teknis |
Guarding, ventilasi, isolasi, sensor |
|
4 |
Administratif |
SOP, pelatihan, rotasi, rambu, izin kerja |
|
5 |
APD |
Helm, respirator, sarung tangan, harness |
Kementerian Ketenagakerjaan menempatkan eliminasi, substitusi, perancangan atau rekayasa, administrasi, dan APD sebagai urutan pengendalian risiko.
Contoh pada kebisingan:
- Eliminasi: menghentikan penggunaan mesin yang tidak diperlukan;
- Substitusi: mengganti mesin dengan tipe yang lebih senyap;
- Rekayasa: memasang enclosure atau peredam;
- Administratif: membatasi durasi paparan;
- APD: menggunakan earplug atau earmuff.
9. Menilai Risiko Sisa
Setelah pengendalian ditentukan, lakukan penilaian kembali.
Risiko sisa atau residual risk adalah tingkat risiko setelah pengendalian diterapkan.
Contoh:
|
Kondisi |
Kemungkinan |
Keparahan |
Nilai |
|
Sebelum pengendalian |
4 |
4 |
16 |
|
Setelah pengendalian |
2 |
4 |
8 |
Keparahan dapat tetap tinggi, tetapi kemungkinan menurun karena pengendalian diterapkan.
10. Menentukan PIC dan Target Waktu
Setiap tindakan harus memiliki:
- Penanggung jawab;
- Target penyelesaian;
- Anggaran jika diperlukan;
- Status;
- Bukti penyelesaian.
Pengendalian tanpa PIC dan deadline sering berhenti sebagai rekomendasi.
ILO memasukkan penetapan pihak yang bertanggung jawab dan jangka waktu implementasi sebagai bagian dari tahapan penilaian risiko.
Contoh HIRADC di Tempat Kerja
Berikut contoh sederhana aktivitas penggunaan tangga.
|
Aktivitas |
Bahaya |
Dampak |
L |
S |
Risiko |
Pengendalian |
|
Membawa tangga |
Tangga berat |
Cedera otot |
3 |
2 |
6 |
Gunakan dua orang atau alat bantu |
|
Memasang tangga |
Permukaan tidak rata |
Tangga tergelincir |
3 |
4 |
12 |
Ratakan area dan gunakan pengunci |
|
Menaiki tangga |
Kehilangan keseimbangan |
Jatuh |
3 |
5 |
15 |
Tiga titik kontak dan pengawasan |
|
Mengganti lampu |
Sumber listrik aktif |
Tersengat listrik |
2 |
5 |
10 |
Isolasi energi dan verifikasi |
|
Menurunkan alat |
Alat terjatuh |
Melukai orang di bawah |
3 |
3 |
9 |
Barricade dan tas peralatan |
Tabel tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi aktual, jenis tangga, ketinggian, kompetensi pekerja, dan prosedur perusahaan.
Contoh HIRADC di Tempat Kerja
Berikut contoh sederhana aktivitas penggunaan tangga.
|
Aktivitas |
Bahaya |
Dampak |
L |
S |
Risiko |
Pengendalian |
|
Membawa tangga |
Tangga berat |
Cedera otot |
3 |
2 |
6 |
Gunakan dua orang atau alat bantu |
|
Memasang tangga |
Permukaan tidak rata |
Tangga tergelincir |
3 |
4 |
12 |
Ratakan area dan gunakan pengunci |
|
Menaiki tangga |
Kehilangan keseimbangan |
Jatuh |
3 |
5 |
15 |
Tiga titik kontak dan pengawasan |
|
Mengganti lampu |
Sumber listrik aktif |
Tersengat listrik |
2 |
5 |
10 |
Isolasi energi dan verifikasi |
|
Menurunkan alat |
Alat terjatuh |
Melukai orang di bawah |
3 |
3 |
9 |
Barricade dan tas peralatan |
Tabel tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi aktual, jenis tangga, ketinggian, kompetensi pekerja, dan prosedur perusahaan.
Kapan HIRADC Harus Diperbarui?
HIRADC bukan dokumen sekali jadi.
Lakukan peninjauan ketika:
- Ada proses kerja baru;
- Mesin atau peralatan diganti;
- Bahan kimia baru digunakan;
- Terjadi kecelakaan atau near miss;
- Terdapat perubahan layout;
- Peraturan berubah;
- Pengendalian tidak efektif;
- Ada temuan audit;
- Pekerjaan dilakukan di lokasi berbeda;
- Terdapat perubahan jumlah atau kompetensi pekerja.
ILO merekomendasikan penilaian bahaya dan risiko dilakukan sebelum perubahan metode, bahan, proses, atau mesin diterapkan.
Perbedaan HIRADC, HIRARC, dan JSA
|
Metode |
Fokus |
Penggunaan |
|
HIRADC |
Identifikasi bahaya, penilaian risiko, dan penentuan pengendalian |
Aktivitas atau proses secara menyeluruh |
|
HIRARC |
Identifikasi bahaya, penilaian risiko, dan pengendalian risiko |
Memiliki konsep yang sangat serupa |
|
JSA |
Analisis bahaya pada setiap langkah pekerjaan |
Pekerjaan spesifik dan terstruktur |
Perbedaan istilah tidak seharusnya menjadi fokus utama.
Hal yang lebih penting adalah apakah proses tersebut mampu menemukan bahaya nyata, menentukan risiko, dan menghasilkan pengendalian yang efektif.
Tingkatkan Kompetensi Manajemen Risiko K3 Bersama Phitagoras
Membuat HIRADC membutuhkan lebih dari sekadar memahami format tabel.
Personel K3 perlu mampu mengidentifikasi bahaya yang tidak terlihat, menilai tingkat risiko secara objektif, memilih pengendalian berdasarkan hierarki, dan memastikan tindak lanjut berjalan.
Phitagoras Training and Consulting menyediakan berbagai program pelatihan untuk mendukung peningkatan kompetensi K3, antara lain:
- Ahli K3 Umum;
- Safety Inspector;
- Auditor SMK3;
- Accident Investigation;
- CSMS;
- K3 Kebakaran;
- First Aid;
- NEBOSH;
- Program in-house training.
Pelatihan dapat membantu peserta memahami penerapan manajemen risiko K3 secara lebih sistematis dan sesuai kebutuhan industri.
Hubungi tim Phitagoras Training and Consulting untuk memperoleh informasi mengenai jadwal, persyaratan, biaya, serta program yang sesuai untuk individu maupun perusahaan.
Kesimpulan
HIRADC adalah metode untuk mengidentifikasi bahaya, menilai tingkat risiko, dan menentukan pengendalian yang diperlukan di tempat kerja.
Prosesnya dimulai dari menentukan aktivitas, menguraikan tahapan kerja, menemukan bahaya, menilai kemungkinan dan keparahan, menentukan tingkat risiko, memilih pengendalian, serta mengevaluasi risiko sisa.
HIRADC yang efektif tidak hanya lengkap secara administratif. Dokumen tersebut harus sesuai dengan kondisi lapangan, melibatkan pekerja, diperbarui ketika terjadi perubahan, dan digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan.
Dengan penerapan yang konsisten, HIRADC membantu perusahaan mengelola risiko secara proaktif dan mencegah insiden sebelum menimbulkan dampak serius.









